Pelaporan Pernikahan di Kedutaan Perancis yang ada di Singapura

Hallooooo

Di blog kali ini gw mau cerita bagaimana melaporkan pernikahan gw yang terjadi di Singapura ke kedutaan Perancis. Sebelum datang kedutaan harus membuat janji terlebih dahulu di website dengan bagian civil status (bikin janji begini aja susahnya minta ampun, bukan nakut-nakutin cuma pengalaman gw kemarin ya begitu)

Pernikahan gw didaftarkan di Singapura jadi sudah jelas harus melaporkan ke kedutaan Perancis yang ada di Singapura yah. Setelah gw memutuskan untuk mendaftarkan pernikahan di ROM Singapura, gw dan Nico sudah siap dengan segala konsekuensi terutama keribetan, kesusahan dan kerempongan dalam mengurus dokumen. (yang selama ini gw tunda terus karena males banget ngurus yang begini nih 😂)

Dokumen yang diperlukan dalam pelaporan pernikahan dan pencetakan buku keluarga (livre de famillie) dari kedutaan Perancis :

1. Akta kelahiran gw

Bukan cuma copy akte kelahiran yah, yang diminta kedutaan Perancis adalah copy akta kelahiran dari Indonesia yang sudah dilegalisir di kementrian luar negri RI,  kementrian hukum dah HAM dan juga di legalisir oleh kedutaan Perancis. Sebenernya gw udah sempet ngurus bolak-balik sendiri ke Kemenlu dan Kemenham tapi dokumen gw di TOLAK sama kedutaan Perancis di sini so gw bayar agent di Jakarta untuk memperlancar.

Setelah akta kelahiran di legalisir maka proses selanjutnya harus di translate ke bahasa Perancis. Hanya Penerjemah yang diakui kedutaan Perancis yang bisa menerjemahkan sehingga bisa dilegalisir oleh kedutaan. List penerjemah bisa dilihat di website kedutaan. Gw pake jasanya Pak Sugeng Soleh yang udah cukup terkenal di group Komunitas Kawin Campur.

Setelah di terjemahkan kedalam bahasa Perancis maka langkah selanjutnya adalah melegalisir akta kelahiran di kedutaan Perancis. Untuk melegalisir harus membuat janji terlebih dahulu di website untuk legalization document. Biaya untuk legalisir €25/lembar.

2. Akta kelahiran Nico

Akta kelahiran Nico cuma berlaku 3 bulan dari tanggal yang diterbitkan. Oia akta kelahiran orang Perancis ga kayak kita loh yang dicetak sekali terus harus disimpen baik-baik. Pak Philipe (papanya Nico) harus  ke city hall kota tempat Nico dilahirkan kemudian setelah di cetak harus di kirim ke  Singapura, kurang rempong apa coba? Kira-kira sekitar 10 harian lah sampai di Singapura.

3. Surat CNI dari KBRI di Singapura

Nah gw sempet kecewa karena di ROM surat CNI tidak diminta tapi ternyata CNI diperlukan untuk pelaporan di kedutaan Perancis jadi perjuangan susah payah di Jakarta ga sia-sia. Surat CNI dalam bahasa Inggris tidak perlu di terjemahkan ke bahasa Perancis.

4. Bukti alamat tempat tinggal di Singapura

Pembuktian tempat tinggal untuk Nico bisa dilihat dari tagihan listrik dan Internet. Buat gw pembuktian tempat tinggal dilihat dari kontrak sewa apartemen. Semua dokumen di copy yah.

5. Certified marriage certificate dari ROM

Di kedutaan Perancis yang diminta bukan photocopy biasa melainkan copy yang dikeluarkan oleh ROM dan tertulis “certified copy of Marriage certificate”. Dari ROM hanya mengeluarkan satu sertifikat asli sebagai dokumen pribadi, untuk mendapatkan copy nya gw harus pesan melalui website ROM dan membayar $50/lembarnya. Belum selesai setelah mendapatkan copy lalu dibawa ke Ministry of Foreign Affair (MFA) Singapore untuk di legalisir.

6. Perjanjian Pra-Nikah

Perjanjian Pra-nikah yang kita daftarkan di kedutaan Perancis adalah perjanjian yang kita buat dengan notaris dari Perancis. Jadi bukan perjanjian pra-nikah dari Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Perancis ya. Karena gw ga fasih dalam berbahasa Perancis maka saat penandatanganan di depan notaris, kita harus membayar jasa penerjemah tersumpah dari kedutaan Perancis. Harga jasa penerjemah sekitar $120/jam.

Pastikan semua dokumen diatas dibawa ya, karena kurang satu dokumen saja maka tidak akan di proses lebih lanjut. Setelah semua dokumen diterima maka proses selanjutnya adalah menunggu pemberitahuan dari kedutaan bahwa livre de famillie sudah dapat diambil. Kurang lebih harus menunggu sampai 2 bulan tetapi punya gw jadi dalam waktu 2 minggu saja.

Notes :

Waktu gw ke kedutaan Perancis di Jakarta gw sempat ngobrol sedikit dengan Ibu Cempaka ( merupakan bagian conselour pernikahan, cukup terkenal dikalangan komunitas kawin campur ) beliau mengatakan bahwa peraturan di kedutaan Perancis di setiap negara berbeda, jadi memang syarat pelaporan maupun publication des bans untuk di Jakarta, Singapore ataupun di Perancis pasti ada dokumen yang berbeda ya.

Pengurusan dokumen diatas memerlukan kesabaran, ketelitian dan perjuangan. Buat yang baru mau proses ataupun sedang dalam proses semangat yah!

“Marriage it’s not an obligation nor a race, you do it because you want not because you have to”

Share lot of loves,

CK

Advertisements

Pelaporan Pernikahan dari Luar Negeri di Indonesia

Buat kalian yang menikah di Luar Negri dan ingin melaporkan pernikahan di Indonesia maka di blog kali ini gw akan menceritakan pengalaman gw yah…

Begini ceritanya, setelah mendaftarkan Pernikahan di ROM, maka tahap selanjutnya adalah melaporkan pernikahan ke KBRI di Singapura. Datang ke bagian konseler loket 4 lantai 2. Bawa dokumen sebagai berikut :

1. Paspor kedua pasangan , copy dan asli

2. Kartu Identitas Singapura, copy dan asli

3. Copy akta pernikahan dari ROM, copy biasa bukan yang certified copy

4. Membayar biaya proses sebesar $32

5. Mengisi formulir lapor pernikahan yang diberikan

Menurut gw pelaporan di kedutaan Indonesia itu gampang banget, ga perlu bikin janji dan bisa langsung datang yang penting waktunya sesuai peraturan. Apabila mau memasukkan dokumen akan dilayani dari pukul 9 -12 siang dan untuk pengambilan dokumen dimulai dari pukul 14.30 – 17.00 sore. Waktu pengerjaan dokumen hanya 3 hari saja.

Urusan di Singapura selesai gw langsung berangkat ke Jakarta. Sebenarnya pelaporan pernikahan di Indonesia tidak perlu terburu-buru, hanya saja apabila pelaporan dilakukan lebih dari 1 tahun dari tanggal pernikahan maka akan dikenakan denda maksimal sebesar Rp. 1.000.000,-

Berdasarkan instruksi dari KBRI, pelaporan pernikahan dilakukan di Kantor Catatan Sipil sesuai alamat KTP di Indonesia. Waktu gw datang ke Capil Jakarta Timur yang letaknya di rawamangun, mereka mengatakan bahwa pelaporan pernikahan dari Luar Negeri untuk pemegang KTP Jakarta harus dilakukan di Kantor Catatan Sipil Pusat di Grogol. Gedungnya unik dan parkirnya kecil tapi di dalam gedung ramainya minta ampun.

Loket untuk pelaporan pernikahan Luar Negri adalah Loket C. Dokumen apa saja yang diperlukan :

1. Copy akta perkawinan dan terjemahan akta perkawinan Asli ( cari penerjemah tersumpah yang diakui dan terdaftar di pemerintahan Jakarta)

2. Copy surat lapor pernikahan ke perwakilan KBRI sesuai dengak ID luar negeri

3. Copy KK  dan KTP Indonesia

4. Copy paspor kedua pasangan

5. Pasfoto berdampingan dengan background merah, ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 lembar

6. Copy akta kelahiran kedua pasangan (akta kelahiran Nico tidak gw terjemahkan kedalam bahasa Indonesia)

7. Perjanjian Pra-Nikah

Sertifikat pelaporan pernikahan akan keluar sekitar 1-2 minggu. Pengambilan bisa diwakilkan oleh siapapun asal membawa tanda terima dokumen. Pelaporan tidak dikenakan biaya apapun alias gratis 🙂

“ yang harus dipatuhi dan ditaati itu hukum dan peraturan yang ada, bukan aparatnya “ 

Share love not hate,

CK

Cara mengurus Surat N1-N6 di Indonesia untuk menikah 

Halloooo,

kali ini gw mau bahas tentang proses gw mengurus surat-surat sebagai dokumen pelengkap untuk menikah secara legal, baik di Indonesia, Singapura dan Perancis.

Seperti yang pernah gw jelaskan bahwa status gw dan Nico itu Common-law  Marriage atau mungkin kalau di Indonesia dikenal dengan nikah siri kali yah? Kita tetap harus melakukan pendaftaran pernikahan di Register of Marriage (ROM) Singapura agar bisa dicatatkan secara sipil di Catatan Sipil Indonesia dan Perancis.

Sebenarnya tidak ada yang mewajibkan karena selama tinggal di Singapura kita berdua bahagia saja dengan status kita, so what ya kan? Anyway semua itu sesuai keputusan masing-masing yah dalam hidup maunya seperti apa 🙂

akhirnya kerempongan pun gw mulai! Semua pengurusan surat-surat nikah ini harus gw lakukan di Jakarta karena KTP gw masih terdaftar di Jakarta Timur.

Proses pertama yang harus kalian lakukan adalah membuat surat pernyataan bermaterai bahwa gw perawan. Didalam surat tersebut harus ada tanda tangan gw, orang tua dan diketahui oleh RT dan RW. Gw juga ga paham sih kenapa surat ini penting banget buat di bikin, hareeee geneeee getooo

Bawalah surat tersebut ke rumah bapak/ibu RT yang nantinya akan ditandatangani oleh beliau. RT juga akan mengeluarkan surat pengantar nikah yang selanjutnya harus ditandatangani oleh RW, kemudian semua surat akan diserahkan ke kantor kelurahan.

Note : proses di RT dan RW GRATIS katanya tetapi karena perasaan ga enak dan dianggap akan menjadi orang kaya karena menikah sama bule maka gw memberikan sumbangan lah (seenggak) ikhlasnya.

Proses kedua setelah semua surat dari RT dan RW terkumpul maka bawalah ke kantor kelurahan. Pihak kelurahan meminta gw mengisi formulir yang isinya data gw, data orangtua, data calon pasangan dan dimana tempat menikah (Gw memberikan alamat ROM lengkap). Setelah sehari menunggu akhirnya kelurahan mengeluarkan beberapa surat untuk gw yang dikenal sebagai surat N1-N6

N1 adalah surat keterangan untuk menikah, dasar surat ini adalah surat pernyataan yang gw buat dan didalamnya menyatakan bahwa gw perawan dan belum pernah menikah sebelumnya.

N2 adalah surat keterangan asal-usul yang isinya data pribadi gw dan orang tua. Surat ini berdasarkan kartu keluarga.

N4 adalah surat keterangan orang tua yang isinya kurang lebih sama dengan N2 sih ya.

N5 adalah surat izin menikah dari orang tua yang berisikan bahwa orangtua memberikan izin tanpa keberatan untuk menikahkan gw dengan Nico.

PM1 adalah surat keterangan yang berisi data gw dan alamat tempat gw akan menikah.

Proses ketiga, Nah setelah semua surat dari kelurahan dinyatakan sudah lengkap maka bawalah surat-surat tersebut ke KUA sesuai daerah kecamatan yang tercantum di KTP yah. Buat apa harus ke KUA? Karena gw orang islam maka gw memerlukan surat rekomendasi yang menyatakan bahwa gw tidak ada tanggungan ataupun ikatan sehingga tidak ada halangan untuk menikah di Singapura.

Cerita waktu di KUA :

Kantor KUA yang gw datangi bangunannya sudah tua banget dan kurang terawat gitu. Sesampainya disana gw disambut sama ibu receptionist dan disuruh menunggu sebentar. Ternyata gw disuruh masuk ke ruangan kepala KUA dan gw di wawancara sama bapak kepala KUA dengan pertanyaan super banyak mulai dari mengapa menikah di Singapura? Mengapa menikah dengan bule? Mengapa bulenya ga masuk islam? Mengapa kamu ga tunggu saja sampai masuk islam? Orangtua taukah dengan hub kalian? Ko bisa orang tua setuju dengan pernikahan beda agama begini? ketemu dimana yah? belajar bahasa inggrisnya gimana? Sudah sering diajak keluar negeri? beberapa pertanyaan lain yang bikin gw gemez banget, coba kalau gw ga perlu doi udah gw tinggal, sayangnya harus gw jawab secara demokratis, idealis, kibulis yang intinya KETEMU PASANGAN KAN KARENA ALLAH PAK, MASA REZEKI DARI ALLAH DI TOLAK PAK ? Anyway intinya bapaknya baik kok karena gw akhirnya nyumbang yang (seenggak) ikhlasnya demi kelancaran surat gw.

Setelah surat di Jakarta selesai, maka surat diatas harus dibawa ke kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura. Langsung saja ke loket 4 di lantai 2 gedung KBRI, maka akan dikeluarkan surat CNI (certificate of non impediment) atau dikenal surat single dalam bahasa Inggris dengan biaya prosesnya sebesar $32. Surat ini harus ditunjukkan ke ROM (apabila diminta) dan ke kedutaan Perancis untuk pelaporan pernikahan. Lengkapnya akan gw share di blog pelaporan yah!

Note : surat-surat N1-N6 dan rekomendasi dari KUA tidak gw legalisir di kementrian Luar Negeri maupun Kementrian HAM, berdasarkan pengalaman gw di KBRI Singapura semua surat dari Indonesia diterima dan bisa diterbitkan surat CNI. Apabila ada pengalaman yang berbeda anggap saja gw lagi beruntung ya 🙂

Apply LTVP dari MOM Singapura (updated)

Banyaknya pertanyaan yang muncul ke email gw mengenai LTVP membuat gw happy banget berarti banyak yang mampir liat blog gw di website sebelah. Terimakasih sering-sering mampir yaaaa… Sekarang gw mau jelasin dari awal lagi mengenai LTVP di Singapura biar bisa memberikan informasi sejelas-jelasnya.

Awal gw pindah ke Singapura itu dengan pemikiran yang sangat teburu-buru untuk memulai hidup bersama. Gw dan Nico sudah menjalani hubungan LDR dari 2014 dan biaya yang kita keluarkan cukup besar untuk bertemu disetiap weekend. Kita memutuskan agar gw pindah ke Singapura karena jelas kerjaan Nico memiliki jenjang karir yang lebih bagus dan gw harus mendukung itu dengan pindah ke Singapura.

Gw harus memiliki izin tinggal yang legal di Singapura tentunya, ya sama saja seperti orang asing di Indonesia lah ya. Nico adalah warganegara Perancis dan bekerja di Singapura menggunakan EP (Employement Pass) yaitu izin tinggal bagi para pekerja profesional asing, memiliki posisi manager up dan skill tertentu dengan minimal gaji yang telah ditentukan dari MOM. Ada 2 izin yang sesuai untuk gw, yaitu Depending Pass (DP) atau Longterm visit pass (LTVP) apa bedanya?? DP adalah izin yang diberikan oleh MOM (ministry of manpower) kepada istri dan anak dari pemegang EP (Employment pass)  dan dapat dibuktikan dengan akta pernikahan/ akta lahir. LTVP adalah izin yang diberikan MOM kepada orang tua, common-law spouse, anak tiri dari pemegang EP (Employment pass) dan dibuktikan dengan akta dari instasi terkait.

Untuk mendapatkan akta pernikahan kita harus menuju ROM (register of marriage) sebenarnya menikah disini sangat gampang, yaitu hanya memerlukan syarat sbb :

  1. Tinggal di Singapura selama 15 hari
  2. Paspor kedua calon pengantin
  3. 2 saksi pernikahan
  4. Mendaftar online dan membayar
  5. Surat cerai/surat kematian apabila pernah menikah sebelumnya

Tetapi sejak tahun 2016 ROM memperbaharui peraturan dengan menambahkan CNI (certificate of No Impediments) atau surat keterangan tidak adanya halangan untuk menikah. Buat gw sebagai WNI gw perlu mengurus surat N1-N6 di RT,RW,kelurahan,kua dll lalu ditranslate ke bahasa Inggris dan dilegalisir di KBRI yang pastinya akan memakan banyak waktu. Lagipula gw dan Nico belum bikin prenup secara oneday gw masih ingin beli rumah di Indonesia. Tanpa adanya prenup hak gw dalam memiliki property akan hilang dari hak milik menjadi hak pakai saja. OH NO!

Singkat cerita kita datang ke kedutaan Perancis untuk mencari informasi mengenai izin gw dan mereka menyarankan agar kita melakukan common-law marriage karena pemerintahan Singapura dan Perancis mengakui jenis pernikahan tersebut. Apa sih Common law marriage? Common law marriage adalah pernikahan yang secara yuridifikasi diakui dibeberapa negara sebagai pernikahan sah tanpa didaftarkan di sipil maupun secara agama. Di Indonesia pernikahan ini tidak diakui dan di Perancis pernikahan ini diakui tetapi tidak akan diterbitkan kartu keluarga. Kedutaan Perancis bisa mengeluarkan surat ini dalam waktu 30 menit dengan biaya € 40. Syaratnya hanya paspor kedua belah pihak, bukti kebersamaan seperti foto-foto dan bukti tempat tinggal. Yup inilah pilihan paling pas untuk kita saat ini dan kedepannya bisa pelan-pelan menyiapkan dokumen lainnya.

Berdasarkan Ministry of manpower (MOM) gw bisa mendapatkan LTVP apabila dokumen dibawah ini telah terkumpul :

  1. Mengisi formulir pengajuan LTVP
  2. Memiliki sertifikat common law marriage dari kedutaan
  3. Paspport calon pemegang LTVP

Pihak yang berwenang untuk apply pass ini hanya HR perusahaan calon sponsor bekerja karena perusahaan harus terdaftar dan memiliki akun resmi online di MOM. Tinggal lakukan pengajuan online menggunakan akun dan membayar biaya SG$ 30. Selesai sudah dan tinggal menunggu kurang lebih 5 minggu untuk MOM memverifikasi dokumen pengajuan. Aplikasi gw di approve dalam waktu 2 minggu saja, termaksud cepat ya.

 

Langkah selanjutnya adalah meminta HR untuk melaporkan ke MOM bahwa gw berada di singapura dan siap untuk melakukan sidik jari dan tanda tangan kartu di MOM. Setelah itu MOM akan mengirimkan jadwal temu dan datanglah ontime sesuai waktu yang ditentukan karena pelayanan disini sangat top markotop!

Setelah lima hari kerja menunggu akhirnya keluar juga ID card dari Republic of Singapore gw, waktu berlaku LTVP gw sampai April 2018 (pokoknya sama dengan EP Nico). Kelebihan dari LTVP akan gw jabarkan di postingan baru yah.

Catatan ya kalau LTVP gw dikeluarkan oleh MOM (Ministry of Manpower) dan jelas sekali beda dengan LTVP yang dikeluarkan oleh ICA. ICA (Immigration check point) adalah instasi lain yang bisa mengeluarkan izin tinggal dengan syarat yang berbeda. Orang yang mengajukan LTVP melalui ICA adalah orang yang memiliki sponsor PR (Permanent Resident of Singapore) atau Singapore citizen. Apabila ada pertanyaan diluar pengalaman, gw udah coba bantu jawab sesuai pengetahuan gw dan gw coba jelaskan di blog update ini.

Lot of loves,

CK