No Airbnb di Singapura!

Gw mau sharing pengalaman salah satu member di group FB. Jadi ceritanya ada sepupu dy yang datang ke Singapura, si sepupu dengan istrinya datang dan sewa kamar dari Airbnb. Buat yang pernah booking lewat Airbnb pasti paham kalau alamat lengkap akan muncul kalau kamar sudah di booked & paid. Singkat cerita sang pemilik apartment memaksa agar calon tamu mau di jemput di Airport changi tanpa tambahan biaya, mereka rada heran tapi mengiyakan permintaannya. Sampai di apartment tidak ada yang aneh, semuanya sama sesuai dengan gambar yang ditampilkan di Airbnb. Tetapi tengah malam ada dua orang tidak dikenal datang dan ternyata orang tersebut adalah orang pemerintahan dari URA (urban redevelopment authority), mereka menanyakan semua data diri tamu dan mereka harus meninggalkan apartment malam itu juga! Bisa bayangkan betapa bingungnya mereka dan saat mereka menghubungi pemilik apartment untuk meminta refund yang sudah dibayarkan selama 4 malam, sang pemilik tidak bisa memberikannya karena dy dalam masalah besar dan dalam proses hukum! what??

Oke kenapa bisa serius begitu di Singapura? Semenjak Februari 2017, pemerintahan Singapura menyatakan bahwa home-sharing sites seperti Airbnb ataupun sewa menyewa properti yang menyalahi aturan adalah ILEGAL dan akan diproses secara hukum. Hukuman bagi pemilik properti yang menyewakan private residences kurang dari 6 bulan atau harian akan dikenakan denda sebesar maksimal SG$ 200.000 dan kurungan penjara maksimal 1 tahun. Hal ini dikarenakan banyaknya keluhan dari pemilik properti lain yang merasa terganggu dengan tamu yang datang. Selain itu mereka merasa tidak aman dengan tamu yang mereka anggap asing dan berganti-ganti setiap harinya. Kalau menurut gw selain itu masalah seperti pembayaran pajak dan tekanan dari para pemilik hotel yang mengalami penurunan pendapatan juga menjadi alasan lainnya.

Gw ga tau peraturan ini akan diubah atau tidak kedepannya, mungkinkah semua pemilik properti yang akan menyewakan propertinya harus memiliki license tertentu seperti di Indonesia? Karena tante gw menyewakan villa di Bali, selain memiliki sertifikasi rumah hunian biasa, tante gw juga memiliki sertifikasi pondok wisata, jadi harus membayar pajak lebih apabila disewa harian oleh pihak ketiga.

Gw bukan orang yang pro atau kontra dengan Airbnb. Sebagai traveler gw merasa sangat terbantu, contohnya waktu gw traveling ke Amerika gw menemukan akomodasi dengan harga yang lebih murah lewat Airbnb. Mungkin buat host juga membantu apabila mereka memiliki kamar lebih yang bisa disewakan karena tentu saja menambah keuangan mereka. Kayak gw sekarang stay di apartment yang kamarnya ada 2 ( sengaja disediain buat teman/keluarga yang mau datang) tetapi lebih sering kosong, coba kalau bisa disewain harian lumayan banget kan uang jajan gw bisa bertambah.

Buat negara-negara yang biaya akomodasi sangat mahal, home-sharing sites memang sangat membantu gw. Tetapi di negara lain dimana dengan Rp.500.000 sudah bisa dapat kamar hotel, jujur gw lebih milih stay di hotel karena menurut gw namanya stay di hotel pasti menggunakan standard perhotelan mulai dari kebersihan, fasilitas dan keamanannya. No offense but I feel way much worth it to pay the hotel.

So, buat kalian yang mau traveling ke luar negeri dan mau menggunakan home-sharing sites dalam mencari akomodasi coba di cek-cek regulasi negaranya, jangan maunya untung malah jadi buntung ya!

Have good day & Share lot of loves,

CK

 

Advertisements